‏إظهار الرسائل ذات التسميات Muslim Attitudes. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Muslim Attitudes. إظهار كافة الرسائل

الاثنين، 2 يوليو 2018

Nasehat Ulama untuk Penuntut dari Batu Malang

NASEHAT PERTAMA: 3 WASIAT BAGI PENUNTUT ILMU

*SYAIKH SHALIH SINDI*

Setelah tahmid dan sholawat

*WASIAT PERTAMA*

MABDA' (landasan) kita adalah ILMU YANG BENAR. Kita takkan bisa menegakkan agama melainkan dengan ILMU yang benar dan AMAL shalih.

Ilmu tidaklah dapat diperoleh dengan sekedar berangan² saja.

العلم لا يأتي بالتمني وما نيل المطالب بالراحة

Ilmu itu tdk datang dengan impian belaka dan tujuan takkan bisa dicapai dengan berleha².

Ilmu itu membutuhkan usaha, upaya dan kesungguhan.

العلم يحتاج إلى الجهد

Ilmu itu adalah kehidupan ruh dan jiwa serta jasmani.

Imam Ahmad berkata:

الناس مُحْتَاجُون إلى العِلْم أكثر مِن حاجتهم إلى الطعام والشراب ؛ لأن الطعام والشراب يُحْتَاج إليه في اليوم مرة أو مرتين ، والعِلْم يُحْتَاج إليه بِعَدَد الأنفاس

Manusia itu lbh butuh kepada ilmu ketimbang makan dan minum. Karena makan dan minum dibutuhkan hanya sekali atau dua kali dalam sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak nafas.


Alangkah benarnya ucapan al-Hakami


لَوْ يَعْلَمُ الْمَرْءُ قَدْرَ العِلْمِ لَمْ يَنَمِ

Sekiranya seseorang itu tahu tingkatan ilmu, niscaya ia takkan tidur.

3 METODE DALAM MENUNTUT ILMU

1⃣ Belajar dari yang PALING PENTING DAHULU kemudian YANG PENTING

Yang TERPENTING adalah AQIDAH SHAHIHAH baru AMAL SHALIH yang meliputi fikih ibadah.

2⃣ Metode belajar dengan cara _TADQIQ_ (mendetail) dan _TAHQİQ_ (meneliti/menelaah benar²).

Karena itu hendaknya seorang penuntut ilmu itu harus: MUDAQQIQ (detail/cermat) - MUHAQQIQ (teliti) - MUFASHSHIL (detail) - RUSUKH (mendalam).

3⃣ _Mudzakaroh_ (diskusi) dan _muroja'ah_ (mengulang²).

Salaf dahulu berkata:

تذاكروا ، فإن إحياء الحديث مذاكرته

Bermudzakarohlah, karena sesungguhnya hidupnya hadits adalah dg bermudzakaroh tentangnya.

*WASIAT KEDUA*

Landasan kedua adalah menegakkan agama baik untuk diri sendiri dan untuk orang lain.

أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

Tegakkanlah agama dan janganlah berpecah belah.

Bersatu di atas kebenaran karena manhaj ahlus sunnah wal jama'ah adalah manhaj *persatuan* sebagaimana namanya "al-jamaah" (persatuan) bukan "al-furqoh" (berpecah belah)

*WASIAT KETIGA*

Landasan ketiga  landasan persatuan dan menjauhi perpecahan membutuhkan SULUK yaitu ADAB, AKHLAQ dan PERANGAI.

Persatuan takkan bisa tercapai tanpa akhlaq yang mulia dan adab yang tinggi, yang meliputi kasih sayang, kelemahlembutan dan empati.

***
*NASEHAT KEDUA: 4 TUGAS PENUNTUT ILMU*
*SYAIKH SULAIMAN AR-RUHAILI*

Setelah bertahmid dan bershalawat...

REALITAS kaum muslimin saat ini pada umumnya dan sebagian penuntut ilmu pada khususnya:

Saling berpecah belah
Jahil dengan agama
Sibuk dengan hal² yang tdk bermanfaat baik utk dirinya dan orang lain
Cenderung melakukan hal² yang malah memadharatkan diri dan orang lain.

 REALITAS tsb bisa dihilangkan dengan cara KEMBALI (RUJUK) KEPADA ALLAH, yaitu dengan cara TAUBAT, IMAN dan AMAL SHALIH.

Allâh Ta'ala berfirman:

إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

"Kecuali orang-orang yang BERTAUBAT , BERIMAN dan BERAMAL SHALIH; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS al-Furqon: 70)

Ada 4 cara yang harus dilakukan penuntut ilmu untuk menghadai realitas ini:

1⃣ Hendaknya BERILMU, yaitu berupaya menuntut ilmu yang BERMANFAAT.
Karena ilmu yang bermanfaat akan menjadikan UCAPAN dan AMAL nya benar.
Dan akan menjadikan AQIDAH dan IMAN nya benar.
Serta menjadikan NIAT (qashd) nya benar.
Ilmu itu menjadikan seseorang TAWADHU, semakin berilmu semakin tawadhu dan terbebas dari UJUB, TAKABBUR lagi SOMBONG.

إن الله عز وجل يحب العالم المتواضع، ويبغض العالم الجبار، ومن تواضع لله عز وجل ورثه الله عز وجل الحكمة

Sesungguhnya Allâh mencintai seorang alim yang rendah hati dan membenci orang alim yang angkuh. Barangsiapa yang tawadhu karena Allâh, maka Allah anugerahkan hikmah kepadanya.

Ilmu itu diperoleh dengan usaha bukan dengan angan kosong

لا يزال المرء عالما مادام في طلب العلم ، فاذا ظن انه قد علم فقد بدا جهله

Seseorang akan senantiasa dikatakan alim selama dia tetap menuntut ilmu. Apabila ia mengira bahwa dirinya telah mengetahui maka semakin tampak ketidaktahuannya.

من ظن انه بدون العمل يصل فهو متمنّ

Siapa yang mengira bahwa dirinya akan bisa mencapai tanpa amalan, maka ia hanyalah PEMIMPI (orang yang hanya berangan belaka)

2⃣ Hendaknya berusaha untuk _IJTIMA'UL KALIMAH_ (mempersatukan) bukan yang malah merusak dan memporakporandakan persatuan.

Persatuan yang dimaksud adalah persatuan hakiki, yaitu:

yang dibangun di atas agama dan menegakkan agama (iqōmatud dîn).

شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

"Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (QS asy-Syuro: 13)

Yang dibangun di atas Kitâbullâh. Bukan yang dibangun di atas sentimen partai, organisasi, kebangsaan, dll.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai." (QS Ali Imran : 103)

👆🏻Allah mendahulukan perintah untuk berpegang dengan tali Allah (bersatu), menunjukkan urgensinya bersatu dan larangan kuat berpecah belah.

Yang dibangun di atas cara Nabî dan metode sahabat beliau serta para salaf shalih.

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

"Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS An-Nisa': 115)

3⃣ Hendaknya berusaha untuk bersikap _RIFQ_ (lemah lembut) dan selalu mengedepankan kelemahlembutan.
Ketika ibunda Aisyah menaiki unta yang tampak kelelahan, Nabi mengatakan:

عليكِ بالرفق، إنَّ الرِّفْقَ لا يكونُ في شيءٍ إلا زانَهُ، ولا يُنْزَعُ من شيءٍ إلا شانَهُ

Lemah lembutlah engkau wahai Aisyah, sesungguhnya kelemahlembutan jika terdapat pada sesuatu maka ia akan memperindahnya. Dan jika ia diangkat maka akan memperburuknya. (HR Muslim)

Ketika orang Yahudi mengucapkan kepada Nabi : _as-Sâmu 'alaika_ (semoga kematian atasmu). Maka Nabi menjawab: _wa'alaikum_.

Lantas ibunda Aisyah pun naik pitam dan mengucapkan : _as-Sâmu alaika wal la'nah wa ghadhabullah_ (semoga kematian, laknat dan kemurkaan Allâh menimpamu).

Lantas Nabi menasehati:

مهلاً يا عائشة، عليكِ بالرِّفق، وإيّاكِ والعنفَ والفحش ،إن الله رفيق يحب الرفق في الأمر كله

Tenanglah Wahai Aisyah. Berlemahlembutlah! Jauhilah sikap keras dan bengis. Sesungguhnya Allâh itu maha lemah lembut dan menyukai kelemahlembutan dalam segala hal.

Ketahuilah:

الرفق اساس الخير

Kelemahlembutan itu pondasinya kebaikan.

Diantara bentuk sikap RIFQ adalah NASEHAT dan MELURUSKAN KESALAHAN dengan cara yang baik.

4⃣ Hendaknya berlaku RAHMAH (kasih sayang) terhadap sesama muslim.

ارحَموا مَن في الأرضِ يَرحَمْكُم مَن في السَّماءِ
💕Sayangilah yang berada di bumi niscaya tuhan yang berada di langit akan menyayangimu.

من لا يَرحم لا يُرحم
💕Siapa yang tidak menyayangi takkan disayang.

Hendaknya saling memandang satu dengan lainnya dengan rahmah (kasih sayang).

🌷Ingatlah dunia ini singkat, sedangkan yg tersisa darinya hanya sedikit saja. Sedangkan akhirat itu kekal, dan apa yang ada padanya itu abadi.

🤝🏻 Syaikh mengucapkan terima kasih dan pujian kepada gurunda Ust Abu Auf Abdurrahman at-Tamimi dan ust Mubarak Bamu'allim serta Bp Chalid Bawazir yg telah membiayai seluruh pelaksana dauroh. Tdk lupa pula kpd seluruh panitia yg membantu dan peserta yg hadir.

💪🏻Syaikh menasehatkan peserta dauroh utk tetap semangat belajar meski datang ke lokasi dauroh dari tempat yang berjauhan. Namun semuanya dikumpulkan di atas ikatan keimanan, persaudaraan dan ilmu.

Syaikh sblm penutup menyampaikan:
Jika bukan karena Allâh maka kita semua takkan bisa belajar.
Jika bukan karena Allâh maka kita semua takkan bisa memiliki ilmu.
Jika bukan karena Allâh maka kita semua takkan bisa berkumpul.

👆🏻Semuanya adalah karena Allâh sehingga kita wajib utk tetap menyandarkan segalanya kepada Allâh.

KAW BATU, 2 Juli 2018

Oleh ustadz Abu Salma @abinyasalma

Pak AR

Pak AR Namanya Abdul Rozak Fachrudin. Orang Yogya memanggilnya Pak AR. Tubuhnya gemuk, mukanya agak bundar. Suaranya berat, tapi enak didengar. Saya pernah kos di "rumah"nya di Jl Cikditiro 19 A, selama hampir 2 tahun.

Di awal-awal kos, sungguh aku tidak tahu siapa itu Pak AR. Saya nglamar kos di situ karena diberitahu oleh sobat Ikhsan Haryono, mhswa matematika UGM, teman kelasku.Saya baru "ngeh" siapa itu Pak AR ketika Supodo -- mhsw Fak Tehnik Kimia UGM -- memberitahu siapa gerangan beliau.

Waktu itu saya tanya, kok banyak sekali kartu lebaran dari orang besar sih Pak Podo, siapa sebenarnya Pak AR? Aku lihat di meja depan kamarku kartu lebaran dari Pak Harto, Pak Wapres Umar Wirahadikusuma, Menteri Agama Alamsjah, Menteri Sosial, dan banyak lagi. "Simon, Pak AR itu orang besar. Pak harto saja sangat hormat kepada Pak AR," kata Pak Podo. Pak AR itu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah -- tambah Pak Podo. Oh, saya baru tahu siapa Pak AR setelah pemberitahuan Pak Podo tersebut. Kenapa demikian? Karena keseharian hidup Pak AR sangat sederhana. Kemana-mana naik Yamaha warna oranye engkel tahun 70-an. Suaranya sudah kretek-kretek karena terlalu tua. Apalagi kalau boncengan sama Bu AR, joknya gak cukup sampai bokong Bu AR nyaris menduduki lampu belakang motor. Ya, hanya motor Yamaha butut itulah kendaraan miliknya.

Makanan keluarga Pak AR juga sama dengan anak-anak kos. Tahu tempe sayur lodeh, sesekali ada telur dan ikan. Anak-anak kos yang orang tuanya kaya seperti bang Udin (Kedokteran UGM) jarang makan di rumah. Ia makan di warung Padang di Terban. Suatu ketika, saat kultum usai salat Maghrib, Pak AR bercerita ada orang PT ASTRA datang mau memberi hadiah mobil Toyota Corolla DX tahun terbaru (1980) untuk Pak AR. "Piye, nyopir mobil saja nggak bisa. Parkirnya sulit. Repot kalau bawa mobil apalagi kalau harus masuk ke kampung-kampung di pinggir Kalicode untuk ceramah. Jalannya sempit gak bisa untuk mobil," kata Pak AR. Saya terpaksa menolaknya, ungkapnya enteng.

Pak AR juga pernah bercerita ditawari jabatan Menteri Agama berkali-kali oleh Pak Harto. Pak AR tetap menolaknya. "Saya sudah cukup ngurusi Muhammadiyah saja Pak Harto, terimakasih" katanya. Meski demikian bukan berarti Pak AR gak pernah minta bantuan kepada Pak Harto. Sehabis kultum Subuh, Pak AR bercerita. Beberapa hari lalu saya kirim surat ke Pak Harto. Isi suratnya sedikit sekali. "Pak Harto, Muhammadiyah akan bangun universitas di Yogya. Menawi Bapak kerso monggo," itulah surat Pak AR kepada Pak Harto. Tak lama kemudian, Pak AR ditelpon ajudan presiden. Ada titipan dari Pak Harto untuk Pak AR. Benar, ada titipan cek yang cukup besar. Cek itu semua diserahkan ke kepada Panitia Pembangunan UMY.

Pak AR juga bercerita sering mendamaikan konflik antara militer dan tokoh-tokoh Islam. "Mendamaikannya cukup memakai tata krama Jawa yang halus," kata Pak AR. Kalau mentok, yo ngomong ke Pak Harto. Kalau udah ke Pak Harto semuanya selesai. Hubungan Pak AR dan Pak Harto memang sangat dekat. Komunikasinya pakai bahasa Jawa. Pak Harto sangat menyukai Pak AR karena beliau tak pernah meminta apa pun untuk kepentingan pribadi. Tawaran menteri, jabatan, komisaris, mobil, rumah dari Pak Harto selalu ditolaknya. Kecuali untuk Muhammadiyah.

Pak AR selalu ingat pesan KH Ahmad Dahlan: Hidup-hidupkan Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.

Pak AR tak pernah mau dikasih amplop kalau ceramah di mana pun. Beliau paling suka kalau diundang orang-orang kecil di lembah Kali Code. "Kalau bukan saya yang ke Kalicode siapa lagi," ungkapnya. Aku selalu ingat pesan Pak AR. "Belajarlah untuk tidak mencintai dunia. Allah itu sangat pencemburu," ujar Pak AR. . Kalau hatimu dipenuhi cinta dunia, kata Pak AR, di mana tempat Allah di hatimu? Njih Pak,, kulo manut! Salam untuk teman-teman sekosan Cikditiro 19 A (Pak Rizal Opek, Pak Agus Purwantoro, Bang Udin, Pak Podo, Pak Didi Hilman, Pak Yanto, dll)

Dari: Sdr Simon Syaefudin
Sumber: https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=265897747100704&id=100010414413804

الأربعاء، 25 أبريل 2018

Renungan: Sibuk dengan Diri Sendiri Lebih Baik!

Ada seorang anak yg setiap hari rajin ke masjid, lalu suatu hari ia berkata kepada ayahnya, *"Yah mulai hari ini saya tidak mau ke masjid lagi"*

"lho kenapa?", sahut sang ayah, "karena di masjid saya menemukan orang2 yg kelihatannya agamis tapi sebenarnya tidak, ada yg sibuk dg gadgetnya, sementara yang lain membicarakan keburukan orang lain".

Sang ayah pun berpikir sejenak dan berkata, "baiklah kalau begitu, tapi ada satu syarat yang harus kamu lakukan setelah itu terserah kamu"

"Apa itu?" ,
"ambillah air satu gelas penuh, lalu bawa keliling masjid, ingat jangan sampai ada air yang tumpah"

Si anak pun membawa segelas air berkeliling masjid dengan hati2, hingga tak ada setetes air pun yang jatuh.

Sesampai di rumah sang ayah bertanya, "Bagaimana sudah kamu bawa air itu keliling masjid?", "Sudah".

*"Apakah ada yg tumpah?", "Tidak".*

"Apakah di masjid tadi ada orang yang sibuk dengan gadgetnya?".

"Wah, saya tidak tahu karena pandangan saya hanya tertuju pada gelas ini", jawab si anak.

"Apakah di masjid tadi ada orang2 yang membicarakan kejelekan orang lain?" tanya sang ayah lagi, "Wah, saya tidak dengar karena saya hanya  konsentrasi untuk menjaga air dalam gelas ini".

Sang ayah pun tersenyum lalu berkata, *"Begitulah hidup anakku, jika kamu fokus pada tujuan hidupmu, kamu tidak akan punya waktu untuk menilai kejelekan orang lain*. Jangan sampai kesibukanmu menilai kualitas orang lain membuatmu lupa akan kualitas dirimu".

Mari kita *fokus pada diri sendiri* dalam beribadah, bekerja dan utk *terus menerus bebenah menjadi positif*.

*Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih bermanfaat.*

Penulis:  No Name (saya dapat dari teman via Whatsapp. Semoga Allah memberkahi penulis artikel ini)

الاثنين، 19 سبتمبر 2016

Murajaah 5 Juz Per Hari itu Ternyata Sangat Mudah. Begini Caranya!

Oleh: Umarulfaruq Abubakar

Beberapa hari yang lalu saya menjumpai guru saya, Syekh Asran Jabir Asran, di Ma'had Isy Karima, Karanganyar. Saya datang untuk setoran hafalan Surah Ali Imran.

Setelah setoran saya bertanya kepada beliau,
"Syekh, untuk murajaah baiknya berapa juz perhari?"
"Minimal 5 juz" jawab beliau dengan cepat

5 juz ya... Saya 1 juz pun kadang kala masih sulit, kata saya di dalam hati.

"Waktunya kapan, Syekh?" tanya saya lagi
"Kapan saja. Gak perlu banyak waktu kok. 1 Jam cukup" kata Syekh.
"1 Jam 5 Juz?" tanya saya dengan heran

"Kenapa? Jangankan 5 juz. 1 Jam 10 Juz pun cukup" kata Syekh Asran
"Mustahil..." kata saya sambil tertawa
"Mustahil? Saya biasa kok..."
"Bagaimana bisa?" saya semakin takjub

"Saya kasih contoh. Kalau ada yang berangkat ke Jakarta naik kuda, yang satunya naik bis, satunya naik kereta, satunya naik pesawat. Mana yang paling cepat sampai?"
"Tentu yang pakai pesawat"
"Betul. Kullamaa kamulatil quwwah, iqtarabatil masaafah. Semakin sempurna kekuatan sebuah kendaraan, semakin dekat perjalanan" kata Syekh Asran."Begitu pula dalam menghafal Al Quran. Semakin kuat hafalan, maka akan semakin singkat waktu yang kita perlukan dalam murajaah"

"Ya Syekh, itu murajaah sejam 5 juz-10juz dengan bersuara atau tidak (dalam hati saja)?" tanya saya semakin penasaran.
"Dengan bersuara" jawab beliau.. "Nah dengar ya, saya contohkan.."

Lalu Syekh Asran membaca dengan hafalan 1 rubu' surah Ali Imran itu dengan cepat, bacaannya jelas dan tajwidnya pun tepat.

"Nah, saya bisa selesai 1 rubu dalam waktu kurang dari 1 menit" kata beliau setelah selesai membacanya.
"Kalau 1 rubu' bisa saya baca dalam kurang dari 1 menit, itu berarti untuk baca 1 juz saya hanya perlu waktu 7 menit" kata Syekh Asran yang membuat saya semakin takjub, seakan tidak percaya, tapi saya lihat hal ini benar-benar di depan mata saya.

Saya mulai berfikir dalam hati. Kalau satu juz 7 menit, maka 5 juz cukup 35 menit. Satu jam lebih 10 menit selesai 10 juz. Ternyata satu jam memang cukup untuk membaca 10 juz.

"Saya biasa kok saya khatam dua kali dalam sehari" kata Syekh Asran lagi yang membuat hati semakin bergelora.

"Ya Syekh, apakah kelancaran hafalan antum dengan bacaan riwayat lainnya, seperti lancarnya antum membaca dengan riwayat Hafsh?" tanya saya lagi. Sebab saya tau Syekh Asran menguasai riwayat Warasy, Qalun, Abu Amr, Ibnu Katsir, dan riwayat lainnya. Beliau menguasai qiraat asyrah baik yang dari jalur Syathibiyah maupun jalur Thayyibatun Nasyr.

"Setiap kali saya khatam murajaah dengan satu riwayat, saya segera mulai lagi dengan riwayat yang lainnya" jawab beliau sambil tersenyum...

Ikhwah sekalian, 7 menit ternyata sangat berharga kalau kita manfaatkan untuk tilawah dan murajaah Al Quran. Tapi kalau untuk ngobrol dan bermain hape, 7 menit itu sangat sangat kurang dan rasanya seperti tidak ada artinya sama sekali.

Satu jam pun rasanya kurang ketika sudah mulai membaca postingan di grup-grup wa dan membaca status orang lain di facebook. Apalagi ketika komentar kita mendapatkan respon, maka tidak putus-putusnya berbalas komen, lengkap dengan emoticon-emoticonnya.

Maka, bila ingin waktu lebih berharga dan hidup berkah, kita mulai dengan menguatkan hati. Kuatkanlah hatimu, simpanlah hapemu itu sesaat saja. Fokuslah dalam tilawah dan murajaah. Berjuanglah memperlancar hafalan, karena kelancaran hafalan adalah kunci kenikmatan.

"Menghafal Al Quran itu nikmat" kata Ust Baidun Makenun, "bagi yang hafalannya lancar. Kalau tidak lancar, ya tidak nikmat"

Pulang dari rumah Syekh Asran, semangat saya meletup-letup. Saya jadi semangat murajaah. Target 5 juz perhari, walaupun tidak mesti 5 juz yang berbeda. Bisa saja baca 1 juz diulangi 5 kali sehingga menjadi 5 juz, supaya yang satu juz itu semakin lancar.

Dan saya pun merasakan kenikmatan dan ketenangan yang luar biasa.
Beda rasanya satu jam yang dilalui bersama Al Quran dengan satu jam yang dihabiskan bersama facebook dan whatsapp.

Bedanya apa?
Rasakan saja sendiri...

Taman Al Quran
www.hafalalquran.com

الجمعة، 26 أغسطس 2016

4 Tahap Menuju Nikmatnya Tilawah Al-Quran


1. DIPAKSA

Paksakan diri untuk terus bisa tilawah tiap hari, suka atau tidak, ringan ataupun berat, cepat atau lambat asal jangan terlewat, terus paksakan diri.

2. KEBIASAAN

Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi 'kebiasaan'. Kita akan merasa aneh jika tidak tilawah sehari saja.

3. KEBUTUHAN

Kebiasaan yg terus di lakukan akan berubah menjadi 'kebutuhan'. Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta tilawah, akan merasa rugi jika tidak bisa tilawah.

4. KENIKMATAN

Pada tahap ini tilawah sudah menjadi 'candu'. Tilawah berlama lama adalah 'kenikmatan'. Sedangkan ketika terlewat tidak bisa tilawah akan membuat diri resah. Yang perlu kita lakukan adalah 'istiqomah' dan mengajak, memotivasi diri dan saudara-saudara lainnya untuk terus semangat dalam tilawah agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya bertilawah.

INGAT! Kebaikan itu seperti pantulan bola, semakin semangat kita memantulkannya kepada yang lain, maka akan semakin kencang semangat yang akan kita terima. Kita sudah ditahap mana?

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, M.A.

الخميس، 11 فبراير 2016

Kaya tapi zuhud... Miskin tapi gila harta... Mungkinkah?

kaya tapi zuhud


Itu sangat mungkin... bagaimana bisa demikian? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berikut ini:

"Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: 'Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar?'. Beliau menjawab: 'Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang'.

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: 'Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud?'. Beliau menjawab: 'Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar.'" 

(Sumber: Madarijus Salikin 1/463)

Ustadz Musyaffa Ad Dariny