الاثنين، 30 نوفمبر 2015

Mata Uang Baru Itu Bernama Data

Tulisan ini saya dapatkan dari share-share-an (apa sih!) di Facebook. Tanpa ada sumber siapa penulisnya. Jika Anda penulisnya maka saya katakan bahwa tulisan Anda ini bagus, masya Allah.
Di tahun 2004-2007 Google disibukkan dengan rencana mengembangkan bisnis mereka ke bidang telepon selular (ponsel). Google telah memprediksi bahwa ponsel adalah masa depan komputasi. Sehingga mereka ingin memproduksi ponsel untuk menyaingi para raksasa saat itu: Nokia, Blackberry, Sony Ericsson dan Motorola. Ditambah, Google mengendus bahwa Apple akan segera merilis ponsel revolusioner yang kini kita kenal dengan nama iPhone.

Memproduksi ponsel bukan hanya soal menciptakan perangkat kerasnya (hardware), tapi juga sistem operasinya (operating system-OS). OS ponsel saat itu hanya 3: Symbian, Microsoft Mobile dan Blackberry. Hanya Symbian yang open source. Namun pengembangan Symbian oleh Symbian Foundation dibiayai oleh Sony Ericsson, Samung, Motorola dan Nokia. Kalau Google ikut ke Symbian, sama juga bohong.

Bukan Google kalau tidak berpikir out of the box. Dalam sebuah rapat, CEO Google Eric Schmidt berkata, "Kita tidak akan membuat ponsel. Tapi membuat sesuatu yang akan digunakan di semua ponsel." Artinya, alih-alih memproduksi brand baru ponsel untuk menyangi brand lain, Google akan menciptakan OS yang bisa dipergunakan semua ponsel di seluruh dunia.

Hoki Google sedang terang. Tahun 2005 mereka dipertemukan dengan Andy Rubin, pengembang OS Android, yang sedang kekurangan duit. Google membeli Android sekaligus Rubin sebesar $50 juta. Android adalah OS ponsel berbasis Linux yang open source dan gratis. Dengan Android sebagai senjata, Google memulai perangnya di bisnis ponsel dan kini berhasil menjatuhkan para raksasa lama. Diluncurkan resmi tahun 2010, kini Android adalah OS ponsel yang paling banyak digunakan di dunia. Ia terpasang di 1,6 miliar lebih ponsel, melampaui iOS dengan 628 juta. Karena Android lah sekarang kita bisa menikmati smart phone dengan harga bahkan di bawah Rp1 juta. Karena ia gratis sehingga setiap produsen smart phone bisa menekan biaya produksi serendah-rendahnya. Karena Android bermunculan produsen smart phone, termasuk di dalam negeri. Bahkan demi Android, Google membeli Motorola (yang beberapa waktu lalu dijual lagi).

Kalau Android gratis, darimana Google untung?

ERA KAPITALISASI DATA

Ponsel adalah perangkat komputasi yang sudah jadi bagian hidup sehari-hari orang banyak. Hadapi kenyataan ini: ponsel anda lebih tahu siapa anda dibandingkan diri anda sendiri.
Ponsel adalah mesin tambang emas. Emas itu adalah data anda. Data ini tidak sekedar nama, gender, usia dan lokasi yang datanya anda masukkan ketika registrasi akun untuk mengakses Android (atau iPhone). Google tahu hobi dan perilaku anda dari aplikasi yang anda install dari Playstore. Mereka bisa secara presisi tahu lokasi anda dan tempat-tempat yang anda kunjungi lewat GPS untuk membaca minat anda.

Semua situs yang anda kunjungi lewat ponsel akan terekam dan dibaca datanya untuk mengidentifikasi ketertarikan anda. Lewat email yang masuk ke ponsel, Google bisa tahu pekerjaan, relasi dan minat. Bahkan, bila anda sudah memakai Google Wallet yang bisa digunakan sebagai alat pembayaran ke mesin EDC dengan cara tapping, Google tahu berapa pengeluaran anda dan dimana anda berbelanja.

Data-data ini masih ditambah dengan data yang mereka dapatkan ketika anda menggunakan perangkat komputasi lain, PC contohnya. Kebetulan browser paling banyak dipakai adalah Google Chrome yang disinkronkan dengan akun Google anda. Situs apa yang anda kunjungi, berapa lama anda bertahan di situs tersebut, aktivitas apa yang anda lakukan, Google tahu. Mungkin terdengar mengerikan, tapi itulah kenyataanya.

Apa yang akan Google lakukan ketika semua data kita (dan miliaran user lain) mereka pegang? Menjual data itu ke pengiklan. Google adalah biro iklan terbesar di planet ini. Nama produknya adalah Adsense. Pendapatan Google dari Adsense tahun 2014 adalah $59 miliar atau Rp826 triliun. Hampir separuh APBN Indonesia 2014 yang sebesar Rp 1.800 triliun itu.

Bagaimana data-data itu bisa berguna bagi pengiklan? Setiap pengiklan atau pemilik brand ingin agar setiap iklannya disaksikan oleh calon konsumen yang sesuai dengan target pasar mereka. Misal, brand mobil akan sia-sia mengiklankan diri mereka kepada orang yang beli sepeda motor pun tak sanggup. Karena periklanan konvensional tak bisa memenuhi kebutuhan micro targeting, maka dilakukankan periklanan dalam bentuk broadcast. Memasang billboard tepi jalan misalnya. Misal, dari 1 juta orang yang melihat iklan itu per hari, hanya 30% yang mampu beli mobil, atau hanya 10% yang sedang berencana beli mobil. 70% sisanya sia-sia. Bila tarif memasang iklan tepi jalan itu Rp300 juta/bulan dan hanya bisa mendatangkan 100 pembeli/konsumen, maka nilai akusisinya adalah Rp3 juta per konsumen. Alangkah mahalnya.

Mahalnya nilai akuisisi ini karena pengiklan turut menghabiskan uangnya menampilkan iklan kepada audien yang bukan segmen pasar mereka. Ini bukan disengaja, tapi tak ada jalan keluar untuk micro targeting. Sampai Google menyediakan Adsense. Dengan Adsense, selain micro targeting, pengiklan bisa membayar sesuai kebutuhan. Misal, mereka hanya butuh iklan mereka disaksikan, maka bisa memilih cost per mile (CPM). Bila butuh audien mengklik, bisa memilih cost per click (CPC). Atau, kalau anda ingin baru membayar ketika konsumen bertransaksi di website anda, bisa memilih cost per acquisition (CPA).

Sampai di sini anda sudah tahu bagaimana data bisa dikapitalisasi, dikomersialisasi atau dimonetisasi sampai jumlah pendapatan super raksasa. Data ini didapatkan dari user, kita semua. Demi mendapatkan user, Google menyediakan berbagai platform gratis: mesin pencari, Android, Chrome, Youtube, Google+. Dan yang terakhir yang sedang ramai di Indonesia adalah Google Baloon, sebuah akses internet wifi gratis dari Google berbentuk balon. Bayangkan berapa user dan data yang bisa Google dapatkan dari balon itu. Mau tak mau kita harus setuju dengan argumen ini: if something is free, then you're the product.

Yang membuat kapitalisasi data ini makin menarik adalah setiap orang bisa ikut untung. Setiap pemilik website, mobile app dan video di Youtube, bisa menyediakan tempat atau konten mereka sebagai tempat periklanan Adsense. Setiap orang bisa jadi media beriklan dan dapat pemasukan besar. Penyedia konten seperti Kompasiana, Detik, Kompas, Tribun, ikut menjadi rekanan Adsense. Pencipta game fenomenal Flappy Bird, meraup untung Rp 608 juta per hari dari iklan Adsense yang ia tayangkan di game-nya. Atau seperti Yugianto, warga Desa Jamus di Karanganyar yang mendapatkan Rp40 juta/bulan dari kumpulan videonya di Youtube.

Yang melakukan ini bukan hanya Google, tapi juga Facebook yang memanfaatkan data usernya ke pengiklan Facebook. Kedua bersaing dalam mendapatkan user sebanyak-banyaknya agar makin banyak data sebagai 'emas' yang bisa digali. Maka tak heran bila dua entitas ini menjadi promotor utama dalam gerakan internet gratis. Makin murah atau gratis internet, makin banyak pula user yang mereka dapatkan dan otomatis makin banyak data yang bisa digali untuk kemudian dijual.

Begitu pentingnya data bagi bisnis digital dan sudah jadi mata uang baru, salah satu profesi yang paling seksi di era ini adalah data scientist atau ilmuwan data. Ainun Nadjib, penggagas KawalPemilu yang fenomenal itu kini bekerja sebagai data scientist di sebuah perusahaan digital di Jakarta.

Sampai di sini anda sudah memahami mengapa sebuah penyedia produk gratis bisa menghasilkan keuntungan raksasa dan jadi perusahaan paling kaya di planet ini.

MEMBAKAR UANG DEMI USER

Bila anda sering berkunjung atau berbelanja ke situs belanja online, khususnya Indonesia, akan sering ditemui barang dengan harga jauh lebih murah dibanding pasaran. Atau sering juga ada program promo yang menjual barang dengan diskon sampai 90%, bahkan 99%. Harga-harga yang sulit diterima akal. Kita yang awam ini akan berpikir harga bisa murah karena banyak biaya operasional yang dipangkas, atau sebuah brand produk sedang promosi di situs itu. Sebagian kecil benar, tapi sebagian besar salah.

Yang terjadi adalah pengelola toko online memberi subsidi kepada konsumen sejumlah selisih harga. Bila distributor memberi harga Rp1 juta kepada toko, dan toko menjual seharga Rp500 ribu kepada konsumen, maka toko nombok Rp500 ribu. Kalau ada 100 pembelian, maka toko nombok Rp50 juta.

Sebagai orang yang sering berpergian, saya selalu gunakan aplikasi pemesanan tiket pesawat dan hotel. Sumpah, ini bukan iklan, tapi namanya Traveloka. Saya pernah protes kepada pengelola hotel yang rajin saya inapi mengapa ia tak bisa memberi saya harga semurah Traveloka kalau saya go show (datang langsung). Ia jawab, harga kamar yang ia berikan ke Traveloka sama dengan harga kamar bila saya go show. Kalau harga Traveloka lebih murah, itu karena disubsidi atau ditomboki oleh Traveloka.

Lha, jualan kok nombok?
Kalau mau yang lebih aneh lagi, lihat Gojek. Mereka kabarnya telah mendapatkan investasi sedikitnya Rp200 miliar Sequoia Capital di pertengahan tahun tadi. Ada juga yang menyebut Rp600 miliar. Sampai sekarang Gojek masih rugi, terutama karena bonus referral. Kerugian keuangan Gojek ini dikonfirmasi oleh Nadiem Makarim, CEO Gojek. Dalam sebuah pertemuan pada Oktober lalu, Nadiem mengatakan, "Kami memang belum untung. Kalau kami untung justru kami dimarahi investor."

Investor kok tidak mau untung? Tidak masuk akal, kan?
Kalau mau yang lebih tidak masuk akal lagi, lihatlah Whatsapp. Messanger ini tidak menampilkan iklan, pun gratis tahun pertama. Biaya berlangganan di tahun berikutnya hanya $1/tahun. Itu pun bisa 'diakali' supaya gratis terus. Tapi tahun lalu Facebook membeli Whatsapp Rp222 triliun! Secara keuangan, perusahaan ini tidak pernah untung, tidak beriklan, tapi dibeli ratusan triliun.
Bisnis konvensional sulit memahami ini. Selama ini performace bisnis hanya diukur lewat angka di buku keuangan perusahaan. Kalau duitnya minus, berarti jelek. Namun dalam bisnis digital, data adalah mata uang baru. Pintu masuknya melalui jumlah user. Kalau kita sudah mendapatkan user, datanya akan siap untuk dikapitalisasi untuk apapun. Iklan hanya salah satunya. Artinya, kalau sudah punya banyak user, terserah mau kita manfaatkan untuk apapun agar menghasilkan uang. Jadi, dalam bisnis digital modal dalam bentuk uang lebih sebagai tool atau perangkat untuk mencapai target yang sebenarnya: user dan data.

Dalam startup (perusahaan rintisan) digital, hal seperti ini biasa disebut membakar uang demi mendapat user. Bukan hanya membakar lewat pemberian subsidi harga, tapi juga periklanan. Dengan investasi Rp1,2 triliun, Tokopedia bisa menempatkan iklannya di berbagai billboard Ibukota. Dengan modal Rp6,5 triliun, Mataharimall sanggup memberi diskon barang sampai 99%.
Dengan jumlah user yang banyak, valuasi atau nilai produk atau perusahaan digital otomatis akan naik. Whatsapp dengan 1 miliar pengguna dan 450 juta pengguna rutin bulanan, ketika baru dirilis tahun 2009 oleh Ian Koum hanya bermodal investasi $250 (iya, hanya $250). Dua tahun kemudian, Sequoia Capital menyuntik dana $80 juta. 2013, Sequoia menambah lagi investasi $50 juta ke Whatsapp. Sampai 2014 ia dibeli Facebook $19 miliar. Bayangkan betapa tajirnya pemilik saham Whatsapp seperti Koum dan Sequoia. Facebook 'membeli' setiap user Whatsapp seharga $42/user.

Bulan lalu saya bertemu dengan COO Kompasiana, Pepih Nugraha, di Jakarta. Beliau bertanya, "Kalau menurut hitungan Mas Hilman, berapa nilai Kompasiana?"
Anda akan terkejut dengan jawabannya. (*)

0 التعليقات:

إرسال تعليق