الثلاثاء، 26 يوليو 2016

Inspirasi dari Ustadz Firanda: Mengejar & Meraih Mimpi (Faidah dari Imam Syafi'i)

Al-Imam As-Syafi'i rahimahullah berkata:

بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ....ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ .....أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ

Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih, maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

تَرُومُ العِــزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً .....يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي

Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur saja??

Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…

Diantara kita ada yang berangan-angan dan berkata: "Saya ingin bisa menjadi dermawan seperti si fulan...", "Saya ingin bisa menghafalkan al-Qur'an seperti si fulan...", "Saya ingin berilmu seperti syaikh/ustadz fulan...", "Saya ingin berhasil seperti si fulan..."

Akan tetapi jika hanya berkata dan berangan-angan tanpa usaha maka anak kecil berusia 3 atau 4 tahun pun bisa..., kalau hanya mimpi siapapun bisa. Tapi yang tidak semuanya bisa adalah mewujudkan angan-angan dengan usaha maksimal serta semangat tinggi !!!, tentunya setelah disertai doa kepadaNya dan taufiq dariNya...

Ustadz Firanda Andirja, M.A.


الأربعاء، 9 مارس 2016

12 Things You Should Expect From a Creative Director

It seems like EVERYBODY in advertising is a “creative director” these days. But the title means different things to different people. What’s fair to expect?

1. Help sort through the creative chaos to find those ideas with the most promise. The creative process generates a lot of ideas. Not all of them are golden. A good creative leader helps identify the best ones in their infancy and makes sure they have room to develop.

2. Focus and simplify the ideas. Sometimes an idea has a bunch of extra “stuff” on it and needs to be pruned. If you can’t explain your idea in a sentence, it probably needs to be simplified.

3. Collaborate with the other leaders on the team to stay focused on the goal: solving your client’s problems with inspired, original, effective creative work.No creative director can do it alone. He or she needs to work closely with the strategy, account and production leads to set a vision for both the internal team and the client.

4. Nurture, encourage, challenge, cajole and/or do whatever it takes to help make the work better. Managing creatives can be difficult; you need to know what sort of techniques to use with creative people to get their best work out of them. A good coach knows how to get the best out of each player; the same strategies don’t necessarily work for everybody.

5. Make decisions. A good creative director decides what’s moving forward and kills the rest. When you keep too many things alive for too long, you ask the team to keep too many balls in the air at once. Decisions allow your team to go deeper with the remaining ideas, making them richer and more effective.

6. Avoid phrases like “Just keep pushing it,” “Go ahead and blow it out,” and “Ten more just like that.” They are clichés for a reason—too many creative directors use them to fill the silence when they don’t know what to say. Actionable specifics is what the team needs to make work better.

7. Help figure out how the work will live in the world—that is, how real people will experience the campaign—which includes thinking through the PR and media strategy. Creative ideas have to live somewhere. If the media and PR strategy aren’t part of the thinking from the earliest stages, you’re missing a key element of the CD’s role.

8. Respect people’s time. People want go home and see their significant other or the kid or their dog or their TV or whatever. They don’t want to wait all night at the office for your email with a CD’s cryptic creative feedback. Be realistic about how much time people need to do the work and give them that time.

9. Present work in a way that makes it dynamic, compelling and entertaining. A good creative director needs to make a creative idea come to life well before it actually exists in the world. Not every CD has the same presentation style, but he or she needs to command the room when they are sharing work with the client.

10. Develop a good relationship with the human beings on the client side; people will only take risks and buy interesting work if they trust you. It’s not about “selling” an idea, it’s about understanding your client’s problems and finding a great, creative solution to that problem. Clients know when you’re in it for them or you’re just in it for the award.

11. Listen. Clients tell you what they need if you stop talking long enough to hear it.

12. Keep it fun. Advertising is supposed to be fun, remember? A great CD has a huge impact on the team dynamic and can help create an environment where people enjoy their work.

About the Author
John Kovacevich is a freelance creative director based in San Francisco.

الاثنين، 7 مارس 2016

Kita semakin kaya akan ilmu ketika kita solve problems

Tulisan di bawah ini cukup inspiring buat saya. Saya posting di sini. Penulisnya Adhe (Natali Ardianto), founder tiket.com. Saya banyak belajar (secara online) sama Adhe dan Cyrosurenya antara tahun 2001 hingga 2003.

***

Orang malas ya gini ini. Gimana mau maju. Memangnya mau hidupnya, rezekinya, ilmunya, di diskon 10%?

Saya yang sudah mencapai posisi sekarang, hampir tiap hari tidur jam 3 pagi. Kenapa? Karena di jam kantor sudah tidak bisa blas ngurus urusan sendiri. Bisanya hanya mensupport team dan bantu solve problems.

Malam hari ketika si kecil sudah tidur, baru mulai on lagi, reply-reply email, coding-coding lagi, analyze data, research, baca-baca buku dan docs/manual sampai berulang kali supaya hapal.

Kita semakin kaya akan ilmu ketika kita solve problems. Ketika kita kelas 1 SD, perkalian 5 x 2 sepertinya susah sekali. Tetapi sekarang, kita bisa menyelesaikannya di luar kepala. Kenapa? Karena kita solve that problem over and over sampai ngelotok di otak.

Masalahnya, orang malas ngga pernah take the extra effort to learn beyond what they already learn. Saya sebutnya unlearn and relearn. Masalahnya orang-orang malas itu mudah puas diri.

Saya orangnya very very detail. Ketika saya menyetir di jalan, saya tahu saya harus menyetir di lajur pertama, kedua, atau ketiga, saya perhatikan kapan ada lubang di jalan, kapan ada potensi mobil melambatkan diri karena harus muter balik, mana yang setelah lampu merah menjadi hijau, jalurnya jalannya lebih cepat karena semuanya satu jalur jalan lurus, tidak ada yg mencoba belok kanan.

Saya dulu kalau kebetulan ngga ada sopir, suka eksperimen lewat jalur-jalur aneh dan jalan tikus. Alhasil sampai sekarang jalan tikus itu dipakai terus karena bisa menghemat waktu tempuh hingga 33%.

Makanya suka sebel dulu waktu ada sopir, semisal dia over and over again made the same mistake, ambil jalur paling kanan dan terhenti jalannya karena ada mobil mau putar balik. Padahal yang harusnya sedetail itu khan sopir, karena hidupnya revolves around driving and roads.

Jangan sampai ya, pas jaman Masyarakat Ekonomi ASEAN nanti setelah 31 Desember 2015, kalian komplain karena ada orang dari negara tetangga yang mau kerja lebih dari 9 jam karena digaji sebesar Rp 2,8 juta/USD 215 (Karena Kamboja UMR-nya USD 128/month, Myanmar USD 55/month utk pegawai negeri).



السبت، 13 فبراير 2016

Mengapa Orang Bisa Sesat?

Kenapa Orang Bisa Tersesat?

قال شيخ الإسلام ابن تيمية -رحمه الله-:
"وأصل ضلال من ضل هو بتقديم قياسه على النص المنزل من عند الله وتقديم اتباع الهوى على اتباع أمر الله"
العبودية | صـ ٦٧


Penyebab utama kesesatan:
Lebih mengutamakan logika pribadi dibandingkan dalil yang diturunkan dari sisi Allah.
Lebih mengikuti hawa nafsu dibandingkan perintah Allah.
*
(Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dalam Al-'Ubudiyah, hlm. 67)
________
www.wanitasalihah.com
https://telegram.me/wanitasalihah

الخميس، 11 فبراير 2016

Kaya tapi zuhud... Miskin tapi gila harta... Mungkinkah?

kaya tapi zuhud


Itu sangat mungkin... bagaimana bisa demikian? Mari simak pemaparan Ibnul Qoyyim -rahimahullah- berikut ini:

"Ketika harta berada di tanganmu, bukan di hatimu, dia tidak akan membahayakanmu, walaupun jumlahnya banyak.

Sebaliknya, ketika harta itu di hatimu, dia akan membahayakanmu, walaupun harta itu tidak ada sedikitpun di tanganmu.

Imam Ahmad pernah ditanya: 'Bisakah seseorang menjadi zuhud, padahal dia memiliki seribu dinar?'. Beliau menjawab: 'Ya, (bisa saja), asalkan dia tidak senang bila harta itu bertambah, dan dia tidak sedih bila harta itu berkurang'.

Oleh karenanya para sahabat menjadi orang yang paling zuhud terhadap harta yang ada di tangan mereka.

Sufyan Ats-Tsauri juga pernah ditanya: 'Bisakah orang yang kaya menjadi zuhud?'. Beliau menjawab: 'Ya (bisa saja), yaitu jika saat hartanya bertambah dia bersyukur, dan saat hartanya berkurang dia juga bersyukur, dan bersabar.'" 

(Sumber: Madarijus Salikin 1/463)

Ustadz Musyaffa Ad Dariny

الأربعاء، 10 فبراير 2016

Liberal VS. Kyai Kampung

DIALOG ANTARA LIBERAL DAN KYAI KAMPUNG

Liberal: "Ki, ada orang baik banget, anti korupsi, bangun masjid, rajin sedekah sampai hidupnya sendiri dikorbanin buat nolongin orang banyak, terus meninggal dan dia bukan Muslim, Dia masuk surga atau neraka?"

Kyai: "Neraka."

Liberal: "Lah? Kan dia orang baik. Kenapa masuk neraka?"

Kyai: "Karena dia bukan Muslim."

Liberal: "Tapi dia orang baik Ki. Banyak orang yang kebantu karena dia, bahkan umat Islam juga. Malah Bangun Masjid Raya segala. Jahat bener dah Tuhan kalau orang sebaik dia dimasukin neraka juga."

Kyai: "Allah tidak jahat, tapi adil."

Liberal: "Adil dari mane?"

Kyai: "Kamu sekolahnya sampai tingkatan apa?"

Liberal: "Ane mah Master Sains lulusan US Ki, kenape?"

Kyai: "Kenapa bisa kamu dapat titel Master Sains dari US?"

Liberal: "Yaa karena kemaren ane kuliah disana, diwisuda di sana."

Kyai: "Namamu terdaftar di sana? Kamu mendaftar?"

Liberal: "Ya jelas dong Ki, ini ijazah juga masih basah."

Kyai: "Sekiranya waktu itu kamu tidak mendaftar, tapi kamu tetap datang kesana, hadir di perkuliahan, diam-diam ikut ujian, bahkan kamu dapat nilai sempurna, apakah kamu tetap akan dapat ijazah?"

Liberal: "Jelas enggak Ki, itu namanya mahasiswa ilegal, sekalipun dia pintar, dia nggak terdaftar sebagai mahasiswa, kampus ane mah ketat soal aturan gituan."

Kyai: "Berarti kampusmu jahat dong, ada orang sepintar itu tak dikasih ijazah hanya karena tidak mendaftar?"

Liberal: *terdiam*

Kyai: "Gimana?"

Liberal: "Ya nggak jahat sih Ki, itu kan aturan, salah si mahasiswa kenapa nggak mendaftar, konsekuensinya ya nggak dapat ijazah dan titel resmi dari kampus."

Kyai: "Nah, kalau kampusmu saja ada aturan, apalagi dunia dan akhirat. Kalau surga diibaratkan ijazah, dunia adalah bangku kuliah, maka syahadat adalah pendaftaran awalnya. Tanpa pendaftaran awal, mustahil kita diakui dan dapat ijazah, sekalipun kita ikut kuliah dan mampu melaluinya dengan gemilang. Itu adalah aturan, menerapkannya bukanlah kejahatan, melainkan keadilan."

Catatan penulis:
Dialog imajiner di atas penulis dapatkan dari seorang ustadz di Whatsapp, tanpa penyebutan keterangan sumber dan nama penulis. Semoga bermanfaat. Ternyata dengan logika sederhana pun sudah dapat membantah kaum liberalis.

الخميس، 10 ديسمبر 2015

Mulai dari yang Kecil (Tulisan Prof. Yohanes Surya)


Tulisan di bawah ini adalah milik Prof. Yohanes Putra. Tulisan bagus ini saya posting di sini agar tidak hilang dan terlupakan. Tentu saja, Islam jauh-jauh hari sudah berbicara tentang ini. Insya Allah lain kali kita bahas. Prof. Yohanes Putra memiliki jasa yang luar biasa untuk pendidikan di Indonesia. Yuk kita do'akan beliau agar mendapat hidayah taufik dari Allah.

***

Bangun tidur yang dicari handphone. Kenapa ya?
Buka komputer, yang dibuka games atau situs tertentu saja. Kenapa ya?
Otak kita butuh makanan berupa “kepuasan”. Games, smartphone (sms, WA, BB) atau situs tertentu memberikan “kepuasan” bagi otak. Otak puas menimbulkan rasa senang. Ini mendorong kita untuk melakukannya lagi dan lagi, menjadi suatu kebiasaan.

Kebiasaan membaca lebih 50 buku pertahun, menurut penulis buku Mini Habits, Stephen Guise dimulai dng kebiasaan kecil (mini habits) baca 2 hal per hari. Ini bukan tugas berat bagi otak. Sukses, membuat otak “puas” dan ingin melakukannya lagi dan lagi. Dari 2 hal, jadi 4 hal, 10 hal dan akhirnya 1 buku per bulan. Lalu 1 buku perminggu dan akhirnya lebih 50 buku pertahun.

Kebiasaan jalan pagi, saya mulai dng jalan 5 menit perhari ( GAmpang dilakukan). Sukses mampu jalan 5 menit , membuat otak “puas” (senaNG), sehingga saya lakukan ini tiap hari. Agar lebih aSIk, jalan sambil dengar lagu atau merenung. Rasa senang memotivasi saya untuk jalan 10 menit, 15 menit, lalu 20 menit dan akhirnya 30-45 menit, apalagi rewardnya hebat: tubuh lebih segar, penyakit (kolesterol, cepat lelah dsb) sembuh tanpa obat.

Kebiasaan makan sepiring sayur/buah + air putih dipagi hari. saya mulai dng GASING: makan sayur satu sendok kecil (GAmpang dilakukan), otak “puas” (senaNG) karena kita sukses makan sayur. Besoknya saya lakukan lagi. Agar lebih aSIk, sayur dicampur abon atau kerupuk. Ini rutin saya lakukan karena saya tahu rewardnya hebat: tubuh lebih sehat (buang air besar lebih lancar, racun tubuh terbuang), terhindar dari prostrat, ginjal bekerja dng baik dsb.

Ngajar berhitung, pakai GASING. Mulai dng yang GAmpang 1+1, 1 +2. Ketika murid jawab benar. Saya puji “wah hebat sekali kamu bisa hitung 1 + 1 = 2, 1 + 2 = 3”. Murid senaNG “kok gampang gini dipuji…”.Otaknya “puas” (senaNG). Mereka tambah semangat, belajar jadi lebih aSIk apalagi rewardnya hebat : kepintaran bertambah.

Banyak kebiasaan positif bisa dimulai dng GASING/mini habits: Belajar bahasa (mulai dng 1 kata per hari), juara olimpiade matematika (kerjakan 1 soal olimpiade perhari), meditasi/doa pagi (mulai dng 1 menit per hari), baca kitab suci (mulai dng baca 1 ayat perhari), push up 25 kali perhari (mulai dng 1 push up per hari), berhenti merokok (mulai kurangi 1 rokok per hari), menulis buku (mulai nulis 50 kata perhari), tidak berkata kasar (mulai kurangi 1 kata kasar ), memberi (mulai beri Rp. 10.000 pada orang susah), hidup sehat (mulai minum 1 gelas air putih per hari) dsb.
The journey of a thousand miles begins with one step. (by Prof. Yohanes Putra)